Esai itu apa sih?


Di pertemuan-pertemuan pertama sampai ketiga dalam mata pelajaran Menulis Kreatif saya hanya meminta para siswa-siswi yang budiman dan penyabar itu untuk (1) menulis kontrak membaca, (2) membaca karya-karya esai senior mereka, kemudian membuat peta konsep dari karya tersebut, (3) membuat peta konsep dari calon bakal esai mereka sendiri, dan menulis dengan dasar peta konsep tersebut. Semuanya tanpa sedikitpun ada penjelasan apa itu esai.
Cara mengajar begini mungkin saja tidak lazim, seorang siswa mengeluhkannya: Pak Farid dan metode mengajarnya adalah seekor ikan lele penuh ilusi yang menjelajahi aspal panas depan Masjid Al-Mukhtar hanya untuk menendang bola, sambil mengira dirinya seekor atlet futsal berbakat. Benar-benar gaje lahir batin.
Mengingat output pelajaran menulis kreatif ini (antologi esai), sejak awal saya memasang target-target pendek dan sederhana: anak-anak harus sering membaca, dan mulai sering menulis. Jauh lebih sederhana daripada membuktikan bentuk bumi; entah itu datar, bulat, atau trapesium sekalipun.
Saya sedang tidak bicara soal menyalin buku teks yang disalin di papan selebar hampir dua meter. Atau mendiktekan suatu rangka teori menulis untuk disalin siswa. Lagipula, percaya atau tidak, teori menulis itu membosankan.
Kebiasaan membaca tidak saja akan meningkatkan wawasan, tetapi juga lebih jauh. Mereka akan memahami pikiran, perasaan, dan asumsi orang lain, juga meningkatkan daya reflektif mereka. Sebagai bonus mereka bisa belajar sendiri bagaimana membedakan bahasa tertulis (struktur dan aturannya) dengan bahasa lisan, dan memperkaya kosakata. Sehingga suatu hari nanti mungkin mereka akan segan jika akan menulis gue harap lo ngerti maksud gue.
Dengan sering menulis mereka akan belajar membiasakan diri berhadapan dengan pikiran dan perasaanya sendiri. Menulis akan menguji wawasannya, membantu menata pikiran (logika tulisan), melatih imajinasi, mengasah daya kritis, dan meningkatkan respon sosialnya. Sebagai bonus mereka akan punya hiburan lain dari sekadar kabur dari asrama. Semoga.
Tapi jika memang tetap harus menjelaskan apa sih itu esai, baiklah…
Apa sih itu esai?
Biar saya kutip-sederhanakan bahasan soal esai ini dari Lucile Vaughan Payne dalam The Lively Art of Writing. Sebaiknya anda mulai mengambil buku catatan dan mencatat beberapa hal, sebab saya sudah meng-googling-nya dengan susah payah.
Kau mungkin pernah melihat tulisan berisi fakta-fakta atau hasil imajinasi seseorang, lalu mengira itu adalah esai. Atau pernah mencatat dengan cermat pelajaran sejarah tentang siapa saja raja-raja dari kerajaan Singosari, dan juga mengiranya esai.
Tapi itu semua tidak cukup benar. Jadi, apakah esai itu?
Esai adalah ekspresi tertulis dari opini penulisnya. Sebuah esai akan makin baik jika penulisnya dapat menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan, tanpa mengedepankan salah satunya. Tujuannya selalu sama, yaitu mengekspresikan opini.
Esai memang bisa berbeda menurut kualitas, jenis, panjang, gaya, dan subjek. Esai juga bisa berbentuk sederhana sampai yang sangat rumit, namun semuanya akan menunjukkan opini pribadi sebagai analisa akhir. Inilah perbedaan mendasar antara esai dengan tulisan laporan jurnalistik. Sebuah esai tidak hanya sekadar menunjukkan fakta atau menceritakan sebuah pengalaman; ia menyelipkan opini penulis di antara fakta-fakta dan pengalaman tersebut.
Namun sebaiknya kau harus menahan diri dahulu. Sebab kau harus memahami apa opini itu, dan bagaimana menyampaikannya dalam esaimu.
1)      Tema
Sebelum mendapatkan opini, kau harus lebih dulu menentukan tema yang hendak ditanggapi karena opini harus berhubungan dengan tema pembicaraan tertentu.
Apa yang harus ditulis? Pertanyaan ini memiliki jawaban yang tidak terbatas; dari fashion syar’i, permainan futsal, atau cara naik haji dengan menjual pecel lele. Apa saja.
Satu-satunya persyaratan yang harus dipenuhi adalah bahwa kau cukup memahami tema tersebut sehingga darinya dapat membentuk opini.
Ngomong-ngmong soal menguasai tema tersebut, kau bisa mencobanya dari pengalamanmu sehari-hari. Tapi jika merasa itu kurang menarik, atau ingin melengkapi pengalamanmu, kau bisa mencarinya dari buku-buku, atau dari internet: makhluk paling baik nomer dua setelah mang Abas, amang kita yang murah senyum itu.
2)      Apa sih opini itu? Dan bagaimana memunculkannya?
Banyak yang mendefinisikan opini dengan sangat bebas. Segala prasangka, su’udzon, tuduhan, dan segala jenis omong kosong seringkali disebut sebagai opini. Mungkin saja itu benar, namun opini yang ingin disampaikan dalam sebuah esai mustilah memenuhi definisi sebagai berikut:
Opini adalah sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan mutlak atau pengetahuan sah, namun pada sesuatu yang nampaknya benar, terasa valid, atau mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; penilaian.
Mulanya kau harus menguji opinimu dengan definisi di atas untuk menilai apakah kau sudah memiliki tema esai yang ciamik? Apakah opini tersebut didasari atas keyakinan mutlak? Atau pengetahuan yang sahih? Jika ya, berarti itu bukan opini, tetapi fakta –atau sebuah hasil observasi yang telah diterima secara luas sehingga menjadi sebuah fakta. Seperti, ibu kota Indonesia adalah Jakarta.
Fakta harus terlebih dulu diubah menjadi sebuah opini sebelum dimunculkan dalam sebuah esai. Misalnya, fakta menunjukkan bahwa ibu kota Indonesia adalah Jakarta. Untuk mengubah fakta tersebut menjadi sebuah opini, tugasmu adalah menilai fakta tersebut.
Kau bisa menilai begini: Jakarta terlalu padat dan jalan-jalan di dalamnya bisa menyebabkan seorang tunaasmara ingin melajang sepanjang hayatnya; oleh sebab meningkatnya jumlah pemukim di sana, akan lebih baik jika ibu kota itu dipindah, misalnya.
Dengan membuat sebuah penilaian/tanggapan seperti ini, kau sudah mengubah fakta menjadi sebuah opini. Dengan demikian, kau telah memiliki tema esai yang asik dan menarik.
Apa yang membuat opinimu menarik?
Jika diminta untuk memilih sebuah opini yang menarik, mungkin kau bakal memilih berdasarkan minat, karena semua orang biasanya dapat menulis dengan baik topik yang dikuasainya. Namun, topik yang menarik sesungguhnya adalah yang "mengganggu" pembacanya!
Jika jumlah orang yang tidak setuju dengan tulisanmu cukup banyak, mungkin sekali pandanganmu akan menarik perhatian. Pembaca tidak akan tertarik dengan sesuatu yang sudah jelas dan tepat.
Ketika sedang membuat sebuah opini esai, usahakan kau dapat menjawab setiap pertanyaan yang mungkin muncul dari opini yang bertentangan.
Yang dimaksud dengan opini yang bertentangan tentu tidak selalu berarti berkebalikan. Jika kau mengatakan “Tafsir Mafatihul Ghoib” adalah kitab tafsir terbaik sepanjang masa, tentu tak akan ada orang sembrono menyatakan “Tafsir Mafatihul Ghoib” sebagai tafsir terburuk sepanjang sejarah. Yang ada mungkin ialah kritik atas pernyataanmu tersebut, yang menyatakan kitab tafsir itu terlalu panjang, pembahasannya kurang fokus, banyak kisah israiliyatnya, dll.
Jadi, opini yang menentang tidak selalu kebalikan dari opinimu. Yang jelas akan ada perbedaannya. Meski demikian, opini hanyalah sebuah pendapat pribadi tentang kebenaran. Kau tidak perlu mengharapkan opini esaimu menjadi bukti ilmiah. Tujuanmu adalah untuk meyakinkan, bukan membuktikan. Kekuatan esaimu diukur dari keberhasilannya meyakinkan pembaca.
Di pertemuan keempat barulah saya membuka diskusi di kelas dengan menulis: “esai: karangan prosa yang membahas suatu masalah sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya.”
Saya megutip langsung dari KBBI dengan perasaan was-was. Sekaligus menjelaskan agar mereka tidak berpatokan pada yang saya kutip tersebut, khawatir teori-teori ini hanya akan membatasi pemaknaan mereka terhadap apa itu esai.
Diam-diam saya menyimpan harapan, semoga suatu hari nanti mereka benar-benar bisa menulis sesuatu tentang seekor lele yang menjadi atlet futsal berbakat.

Bacaan:
Lucile Vaughan Payne, “What is An Essay? dari The Lively Art of Writing”, Follett Publishing Company:1965.

Komentar