Sikap Kreatif dan Hal Lainnya



Orang boleh pintar setinggi apapun, tapi selama ia tak menulis, ia bakal hilang ditelan zaman dan peradaban (Pramoedya Ananta Toer)

Jika yang kau bayangkan dari menulis adalah menyalin papan penuh tulisan gurumu, atau mencatat nominal tabungan; sebaiknya kau berhenti membaca di sini, dan gunakan waktumu untuk hal lain yang lebih berguna, misalnya berlatih memangkas bulu ayam.

Menulis kreatif atau lebih populer dengan sebutan creative writing merupakan elemen yang paling sering membuat para penulis gelisah, ia menyinggung dua hal penting dalam diri seorang penulis, pertama soal mengapa ia menulis; dan bagaimana ia menulis.

Persoalan pertama menyinggung kesiapan batin seorang penulis (siapapun mereka, pemula maupun berpengalaman), apakah ia telah menyiapkan dirinya dalam kerja menulis? Kerja yang terus menerus melibatkan semuanya: perasaan dan pikiran, pengetahuan dan imajinasi, kegelisahan dan harapan, maupun mimpi dan visi, dan lainnya.

Persoalan kedua, tentang bagaimana ia sebagai penulis melahirkan karya-karyanya berdasarkan sikap yang ia bangun dari hal pertama tadi.

Sikap Kreatif

Mulanya kreatifitas adalah persoalan sikap. Kreatifitas bermula dari keinginan untuk mempertanyakan, ‘melanggar’, menambahkan, atau singkatnya mengubah lebih baik hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Untuk mencapai ke titik itu, diperlukan keberanian, dan pikiran yang terbuka.
Keberanian akan mendorongmu untuk memandang hal-hal secara berbeda, dan membuatmu berani menyatakan ide-idemu sendiri. Sementara pikiran terbuka akan membuatmu tidak ngotot hanya karena berbeda pendapat. Menerima pandangan berbeda untuk memperkaya wawasanmu sendiri.

Sikap kreatif jugalah yang membedakan manusia dengan seluruh lebah yang ada di muka bumi. Lebah memang juara mengorganisir produksi madu. Namun setelah berabad-abad lewat, malang melintang dalam urusan itu, tak pernah satu generasi lebah pun mencatat dan mewarisi cara mengolah madu sebagai senjata pemusnah massal.  Berabad-abad, saudara! Mereka hanya memproduksi madu, dan nampaknya 10 abad ke depanpun lebah-lebah itu hanya akan memproduksi madu. Tidak lebih.

Manusia tidak begitu. Dari generasi ke generasi, manusia mempelajari hal baru, menuliskan ide baru, kemudian generasi selanjutnya menambahkan dan mengembangkan, sampai menjadikan ide-ide awal mereka yang paling mustahil sekalipun dapat terwujud di masa selanjutnya.

Sekian abad lalu manusia menempuh perjalanan Jogja-Jakarta dalam sekian hari berkuda, kini mereka hanya perlu duduk-duduk manis di bangku pesawat, kurang dari 5 jam.

Benar-benar gila, bukan? Serangkaian logam dengan berat berton-ton itu terbang membelah udara, dengan isi manusia pula! Bayangkan, apa isi kepala orang-orang yang menertawakan ide pesawat dahulu; manusia tidak jauh beda dari lebah?

Mustahil kau menjadi kreatif jika menyatakan pikiran di depan kelas saja membuat tubuhmu gemetar; menjadi jujur dalam tulisan saja membuatmu merasa seperti menelan biji kedondong, sementara melahap ide-ide baru (membaca buku atau berdiskusi) membuatmu pening setengah hidup.

Menulis Kreatif dan Tanggungjawab

Penulis kreatif adalah penulis yang secara sadar mengambil sikap kreatif (berpikiran bebas dan bersikap terbuka) sebagai sikap dasar menulisnya. Ia bebas mengutarakan pendapatnya, bebas pula bagaimana cara menyampaikannya. Juga terbuka terhadap pendapat lain yang berselisih dengannya, kritik maupun saran atasnya.

Dengan begitu setiap penulis musti sadar apa yang diinginkan, dilakukan, dan kemudian mewujudkannya. Dan sadar apa konsekuensi berikut tanggung jawabnya. Menyadari sepenuhnya bahwa kebebasannya sebagai penulis (dalam mengutarakan pikiran) berhadapan dengan kebebasan orang lain juga.

Sebab bagaimanapun, dalam setiap tulisan si penulis akan berhadapan dengan banyak pembacanya, dan secara langsung (atau tidak) akan masuk ke dalam persoalan komunikasi.  Dan ngomong-ngomong soal komunikasi, kamu pasti tahu apa yang terjadi jika kamu tidak sadar tanggungjawab.

Jadi, saudara-saudari sekalian, siap menjadi penulis kreatif? Atau mau habis ditelan peradaban tanpa warisan apapun?

Muraja’ah
Pamusuk Eneste dkk., “Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang”, (Jakarta: GPU, 1984)
Arswendo Atmowiloto. “Mengarang Novel itu Gampang”, (Jakarta: GPU, 2004)

Komentar