Jika yang kau bayangkan dari menulis
adalah menyalin papan penuh tulisan gurumu, atau mencatat nominal tabungan;
sebaiknya kau berhenti membaca di sini, dan gunakan waktumu untuk hal lain yang
lebih berguna, misalnya berlatih memangkas bulu ayam.
Menulis kreatif atau lebih populer
dengan sebutan creative writing merupakan elemen yang paling sering
membuat para penulis gelisah, ia menyinggung dua hal penting dalam diri seorang
penulis, pertama soal mengapa ia menulis; dan bagaimana ia menulis.
Persoalan pertama menyinggung
kesiapan batin seorang penulis (siapapun mereka, pemula maupun berpengalaman),
apakah ia telah menyiapkan dirinya dalam kerja menulis? Kerja yang terus
menerus melibatkan semuanya: perasaan dan pikiran, pengetahuan dan imajinasi,
kegelisahan dan harapan, maupun mimpi dan visi, dan lainnya.
Persoalan kedua, tentang bagaimana
ia sebagai penulis melahirkan karya-karyanya berdasarkan sikap yang ia bangun
dari hal pertama tadi.
Sikap Kreatif
Mulanya kreatifitas adalah
persoalan sikap. Kreatifitas bermula dari keinginan untuk mempertanyakan, ‘melanggar’,
menambahkan, atau singkatnya mengubah lebih baik hal-hal yang sudah ada
sebelumnya. Untuk mencapai ke titik itu, diperlukan keberanian, dan pikiran
yang terbuka.
Keberanian akan mendorongmu untuk
memandang hal-hal secara berbeda, dan membuatmu berani menyatakan ide-idemu
sendiri. Sementara pikiran terbuka akan membuatmu tidak ngotot hanya
karena berbeda pendapat. Menerima pandangan berbeda untuk memperkaya wawasanmu
sendiri.
Sikap kreatif jugalah yang membedakan
manusia dengan seluruh lebah yang ada di muka bumi. Lebah memang juara
mengorganisir produksi madu. Namun setelah berabad-abad lewat, malang melintang
dalam urusan itu, tak pernah satu generasi lebah pun mencatat dan mewarisi cara
mengolah madu sebagai senjata pemusnah massal. Berabad-abad, saudara! Mereka hanya
memproduksi madu, dan nampaknya 10 abad ke depanpun lebah-lebah itu hanya akan
memproduksi madu. Tidak lebih.
Manusia tidak begitu. Dari
generasi ke generasi, manusia mempelajari hal baru, menuliskan ide baru,
kemudian generasi selanjutnya menambahkan dan mengembangkan, sampai menjadikan
ide-ide awal mereka yang paling mustahil sekalipun dapat terwujud di masa
selanjutnya.
Sekian abad lalu manusia menempuh
perjalanan Jogja-Jakarta dalam sekian hari berkuda, kini mereka hanya perlu
duduk-duduk manis di bangku pesawat, kurang dari 5 jam.
Benar-benar gila, bukan?
Serangkaian logam dengan berat berton-ton itu terbang membelah udara, dengan
isi manusia pula! Bayangkan, apa isi kepala orang-orang yang menertawakan ide
pesawat dahulu; manusia tidak jauh beda dari lebah?
Mustahil kau menjadi kreatif jika
menyatakan pikiran di depan kelas saja membuat tubuhmu gemetar; menjadi jujur
dalam tulisan saja membuatmu merasa seperti menelan biji kedondong, sementara
melahap ide-ide baru (membaca buku atau berdiskusi) membuatmu pening setengah
hidup.
Menulis Kreatif dan
Tanggungjawab
Penulis kreatif adalah penulis
yang secara sadar mengambil sikap kreatif (berpikiran bebas dan bersikap
terbuka) sebagai sikap dasar menulisnya. Ia bebas mengutarakan pendapatnya,
bebas pula bagaimana cara menyampaikannya. Juga terbuka terhadap pendapat lain
yang berselisih dengannya, kritik maupun saran atasnya.
Dengan begitu setiap penulis
musti sadar apa yang diinginkan, dilakukan, dan kemudian mewujudkannya. Dan sadar
apa konsekuensi berikut tanggung jawabnya. Menyadari sepenuhnya bahwa
kebebasannya sebagai penulis (dalam mengutarakan pikiran) berhadapan dengan
kebebasan orang lain juga.
Sebab bagaimanapun, dalam setiap
tulisan si penulis akan berhadapan dengan banyak pembacanya, dan secara
langsung (atau tidak) akan masuk ke dalam persoalan komunikasi. Dan ngomong-ngomong soal komunikasi,
kamu pasti tahu apa yang terjadi jika kamu tidak sadar tanggungjawab.
Jadi, saudara-saudari sekalian,
siap menjadi penulis kreatif? Atau mau habis ditelan peradaban tanpa warisan
apapun?
Muraja’ah
Pamusuk Eneste dkk.,
“Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang”, (Jakarta: GPU, 1984)
Arswendo Atmowiloto.
“Mengarang Novel itu Gampang”, (Jakarta: GPU, 2004)

Komentar
Posting Komentar