Proses, proses, proses!



… ketika proses berada di atas segalanya (bagi seorang penulis) maka pendapat-pendapat dan peristiwa-peristiwa di dalam karyanya mengalir begitu saja, mengikuti proses si penulis. Jika ada yang salah, maka itu hanya proses yang salah, jika ada yang benar, itu hanyalah proses yang benar. (Danarto)

Seorang siswa tampak bingung ketika diminta membuat kerangka karangan dengan mindmap (semacam peta konsep); saya tanyai apa kesulitannya, dengan setengah mengeluh, katanya saya takut salah, pak.

Saya pribadi belum tahu pasti apakah benar jika Indonesia selalu berada di level paling menyedihkan dalam urusan keilmuan disebabkan mental minder (karena takut salah) para kaum cendekianya?
Di level perguruan tinggi saja sangat mudah mendapati kasus-kasus plagiasi dan jual-beli karya tulis ilmiah. Hal yang setidaknya menunjukkan betapa payahnya progress pembelajaran di level perguruan tinggi. Bisa dibayangkan lagi semenyedihkan apa kondisi semangat literatur dan riset di level lain yang lebih rendah.

Danarto, salah satu cerpenis keren Indonesia suatu kali berbagi proses-kreatif dalam menulis karya-karyanya: di mana letak kebenaran dan bukan-kebenaran? Saya sungguh tidak tahu. Segalanya hanyalah proses. Tidak adan benar atau salah. Menang atau kalah, yang ada cuma proses.
Sekilas pandangan Danarto tersebut tampak seperti pandangan yang pelik, seperti hal yang biasa dibicarakan di kelas filsafat. Tapi dia sedang berbicara hal yang sesungguhnya terkait proses-kreatif dalam karir kepengarangannya. Bahwa semuanya adalah proses. Hal-hal yang terus-terusan ia lakukan: keberanian, istiqamah, dan keinginan menemukan hal yang baru, dll.

Proses, proses, proses!

Kita tidak perlu berbicara jauh soal benar-salah ini, mari fokus dengan apa yang dimaksud proses oleh Danarto khususnya, dan oleh kebanyakan penulis besar pada umumya, lalu melihat apa yang bisa kita pelajari sebagai penulis pemula.

Kesalahan seorang yang baru belajar menulis seringkali adalah memikirkan bagaimana seharusnya bentuk tulisannya. Dan di saat yang sama ia melupakan bagian paling menyenangkan dan berharga darinya, yakni prosesnya.

Seorang maestro lukis Indonesia, Affandi suatu kali ditanyai, bagaimana caranya ia menciptakan lukisan-lukisan yang mengagumkan. Ia beratnya balik pada penanya “Saat kau belajar naik sepeda, apakah kamu harus hapal dulu teori naik sepeda? Tidak, kan?”

Sebagaimana proses belajar menaiki sepeda, bukankah akan lebih baik jika teman muda kita ini mulai menuliskan kata pertama dan melihat akan ke mana kalimat-kalimatnya mengalir; sambil menghayati perjalanan batin dan intelektual dengan penanya.

Perjalananan yang membawanya berkunjung pada ingatan lamanya, menyalami pemikiran orang-orang yang pernah didengarnya, dan melongok ke dalam pandangan batin dan kata-kata hatinya. Tanpa kekhawatiran apapun.

Seperti di kelas ekstrakurikulier sastra dulu, kami akrab dengan istilah proses berdarah-darah. Saya sendiri tidak mengerti betul apa maksudnya, tapi pelan-pelan kami menyadari bahwa semua proses belajar di dalamnya adalah menempa kami untuk menghargai semua pengalaman dengan menuliskannya, memeras setiap tenaga dari kata yang kami kenal, dan berani menyuarakan hal-hal yang sebelumnya hanya terdengar sayup-sayup di dalam batin.

Bagaimanapun penulis yang baik (yang baru belajar maupun yang tidak pernah henti-hentinya belajar) adalah penulis yang menghormati proses. Barangkali proses berdarah-darah itu berarti: jika kau ingin melakukan sesuatu yang besar, kau harus memulainya dari sesuatu yang kecil dan terus menerus.

Bukankah satu kalimat yang panjang, dimulai dengan satu kata pertama?

Lalu satu paragraf dimulai dari kalimat pertama, dan seterusnya, dan seterusnya. Sampai kau mengerti di mana posisimu dalam proses itu. Apakah kau memang benar ingin menulis, atau cuma pura-pura saja.

Soal siswa tadi saya tidak dapat berbuat banyak selain mengatakan: mulailah dengan kata pertama. Semoga saja saya tidak membuatnya bertambah sedih dan bingung.

Komentar